Entri Populer

Rabu, 04 Mei 2011

GENERASI MUDA HARAPAN BANGSA


KEPEMIMPINAN


GENERASI MUDA HARAPAN BANGSA


Rangkuman :
Sejarah lahirnya bangsa dan negara ini tidak terlepas dari generasi mudanya dalam melakukan perjuangan demi terbebasnya negeri ini dari cengkeraman penjajah. Dimulai dari pendirian Boedi Oetomo tahun 1908, kemudian Sumpah Pemuda tahun 1928, bahkan peristiwa proklamasi kemerdekaan pun tidak luput dari perjuangan para generasi muda negeri ini. Kita pun mengetahui bahwa Soekarno (Bung Karno) memimpin bangsa untuk merdeka selagi maih dirinya muda. Namun setelah lebih dari setengah abad bangsa dan negara ini merdeka, ternyata generasi muda negeri ini telah tergerus perubahan jaman yang justru membuat mereka seakan jauh dari rasa cinta tanah air dan pengabdian. Pemerintah harus melakukan tindakan yang cepat dan tepat untuk mencegah semakin rusaknya generasi muda negeri ini. Pemerintah yang bekerja sama dengan masyarakat harus senantiasa merangsang untuk menumbuhkan kesadaran kepada generasi muda untuk mengadi dan cinta kepada tanah airnya. Sehingga diharapkan terciptanya pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia yang solid yang dapat membawa negeri ini kepada kemajuan dalam segala bidang.







GENERASI MUDA HARAPAN BANGSA
Awalan
Kepemimpinan adalah ciri utama manusia sebagai pemimpin “khalifah” di muka bumi ini. Sejak peradaban manusia di mulai, sosok pemimpinlah  yang menjadi simbol peradaban itu berlangsung. Michael H Hart dalam bukunya yang berjudul “Seratus Tokoh Yang Berpengaruh Di Dunia” mendeskripsikan bahwa mayoritas yang mempengaruhi peradaban dunia adalah sosok pemimpin, baik itu pemimpin negara, bangsa ataupun agama. Hal tersebut mencerminkan kedudukan pemimpin adalah sangat berpengaruh. Manusia dengan masing-masing kepentinganya yang beraneka ragam butuh sosok pemimpin untuk mengatur seluruh perbedaan kepentingan yang dikhawatirkan menimbulkan gesekan-gesekan diantara manusia tersebut.
Mayoritas buku yang membahas tentang suatu negara, maka akan membahas tentang pemimpin dan kepemimpinan di negara tersebut. Seorang filosof Plato menulis buku yang berjudul “Republic” yang didalamnya membahas tentang siapa yang harus memimpin sebuah negara. Dia mengatakan bahwa seorang pemimpin yang harus memimpin negara adalah seorang filosof, karena dia mempunyai pemikiran dan semangat yang filosofis sehingga akan memerintah negara tersebut dengan kearifan dan kebajikan. Namun pendapat tersebut tidak sepenuhnya diikuti oleh pemimpin-pemimpin di dunia setelah plato tiada. Karena banyak dari sejarah peradaban ternyata pemimpin suatu negara adalah seorang petarung (fighter). Kita pasti mengenal Jenghis Khan, Julius Cesar, Alexander Yang Agung, Darius Yang Agung kesemuanya adalah seorang petarung atau mempunyai keahlian dalam berperang, bahkan seorang pemimpin agama seperti Nabi Musa, Daud, bahkan Nabi Muhammad SAW mempunyai keahlian berperang. Hal tersebutlah yang membuat pemahaman bahwa seorang pemimpin harus handal bertarung. Terlepas dari semua itu menjadi pemimpin haruslah memenuhi kebutuhan orang-orang yang dipimpin. Seorang pemimpin harus membuat kesejahteraan bagi rakyat, sehingga dia harus memiliki “sense” atau jiwa melayani bagi rakyat. Menjadi hal yang unik juga bahwa ternyata usia-usia para pemimpin  tersebut ketika memimpin masih usia muda dibawah 45 tahun, yang menjadikan suatu cirri bahwa kaum muda adalah cikal bakal ataupun penerus kepemimpinan dimasa yang akan dating.
Pilar Perubahan Bangsa
Indonesia merdeka dari penjajahan berkat pemimpin-pemimpin perjuangan pada waktu itu. Tidak mungkin Indonesia itu akan merdeka tanpa ada sosok pemimpin di dalamnya. Soekarno dan Muhammad Hatta adalah sosok pemimpin yang bangsa ini kenal ketika memproklamasikan kemerdekaan negara Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Kemerdekaan yang didambakan bangsa ini selama ratusan tahun, sehingga ketika pekikan proklamasi berkumandang maka rakyat dengan spontan dan siap sedia akan mempertahankan kemerdekaan yang telah mereka harapkan. Sehari sebelum proklamasi kemerdekaan terjadi, ada suatu peristiwa yang menjadi perhatian dan berperan penting dalam sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia, peristiwa tersebut adalah peristiwa Rangasdengklok. Dalam peristiwa tersebut sejumlah pemuda mengamankan Soekarno di daerah tersebut dan mendesak beliau untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dengan desakan yang kuat dari para pemuda tersebut, maka keesokan harinya Soekarno akhirnya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dalam peristiwa itu sosok kaum-kaum muda atau yang pada waktu itu disebut dengan  “golongan muda” yang berperan dalam pendesakan proklamasi kemerdekaan.
Sosok kamu muda dalam perjalanan bangsa ini memang begitu menjadi sebuah agen perubahan (agent of change)   yang menentukan perjalan bangsa ini kedepannya. Disamping peristiwa proklamasi, kita juga harus ingat dengan peristiwa  sumpah pemuda, peristiwa ’65, bahkan peristiwa gegap gempita reformasi dipimpin oleh kaum-kaum muda bangsa Indonesia. Begitu heroiknya para pemuda bangsa ini dalam memperjuangkan seluruh aspirasinya demi kemajuan bangsa dan negara. Tak heran ada sebuah pepatah “apabila ingin menghancurkan sebuah negeri, maka rusakanlah para pemudanya”, pepatah tersebut memberikan sebuah cerminan bahwa sosok pemuda-pemuda adalah pilar penting bagi keberlangsungan sebuah bangsa dan negara. Kekhawatiran terjadi apabila para generasi muda suatu bangsa telah rusak maka tunggulah kehancuran bangsa tersebut.
Robohnya Pilar-Pilar Bangsa
Setelah reformasi bergulir ternyata hal yang dikhawatirkan selama ini terhadap sosok generasi muda (pemuda) bangsa ini mulai terjadi. Banyaknya permsalahan yang terjadi pada generasi muda telah sampai pada saat yang mengkhawatirkan, seperti “budaya ketimuran” yang telah di westernisasi atau telah dipengaruhi budaya barat yang tidak cocok dengan bangsa ini. Masalah-masalah free seks, narkoba, keegoisan dan lain-lain telah memporak-porandakan mentalitas para pemuda Indonesia kedalam jurang kehancuran moral. Hal tersebut tentu saja berpengaruh terhadap pola perilakunya, kasus-kasus tawuran sesame pelajar, mahasiswa bahkan bentrokan dan perkelahian antara mahasiswa dengan aparat kepolisian semakin menunjukan bahwa kaum muda Indonesia telah hilang semangat membangun negeri. Mereka sekarang ini terkesan ingin menghancurkan peradaban bangsa ini. Perpecahan sering terjadi diantara kaum muda itu sendiri, yang mengakibatkan berefek domino bagi kesatuan dan persatuan bangsa selanjutnya. Tidak adanya pemimpin-pemimpin kaum muda yang solid membuat semakin rapuhnya rantai persatuan di Indonesia saat ini.
Sebagai pilar penyangga bangsa dan negara ini tentu saja hal tersebut  menjadi sebuah bencana, karena kaum muda sebagai penerus bangsa telah hancur dari moral dan tingkah lakunya. Bukan tak mungkin Indonesia kedepannya hanya tinggal sejarah nama belaka. Sosok pemimpin muda yang diharapkan menjadi pewaris rantai kemerdekaan bangsa ini seakan-akan telah lenyap dari bumi Nusantara.
Menumbuhkan Rasa Cinta Tanah Air
Peretasan kembali rasa cinta tanah air merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran untuk bersatu dan bersama-sama membangun negara ini kedepannya agar senantiasa lebih maju. Perlu adanya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam hal ini orang tua atau yang sudah berpengalaman untuk mengajak para generasi muda bangsa ini untuk selalu memberikan sebuah teladan mengenai pentingnya kebersamaan dalam hidup. Sebagai bangsa yang terkenal dengan semangat gotong-royongnya, tak pelak lagi maka sosok generasi muda harus mewarisi sifat tersebut yang sudah ada sejak jaman dulu. Pentingnya rasa solidaritas hendaknya selalu ditumbuhkan sejak dini, baik dilakukan dalam pendidikan formal maupun informal. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga dan tentunya lembaga pendidikan harus senantiasa terus merangsang untuk menciptakan generasi muda yang visioner dan memiliki solidaritas sama lain dengan cara mengadakan pelatihan-pelatihan kepemudaan ataupun mengadakan workshop yang intinya merangsang para generasi muda Indonesia untuk menjadi lebih baik dan tentu saja dapat menjadi penerus bangsa yang mempunyai kemauan, kemampuan dan kesolidan dalam memimpin bangsa dan negara ini nantinya. Hal tersebut perlu dilakukan secara terus-menerus dan intensif agar tertanam dalam benak generasi muda untuk memajukan bangsa dan negara. Pemerintah juga harus membentengi para generasi muda dari pengaruh budaya barat (westernisasi) yang bertentangan dengan budaya bangsa ini, yang justru dapat membahayakan kelangsungan hidup bangsa ini nantinya. Salah satu caranya adalah dalam penyensoran televise, film yang kebanyakan saat ini memang telah terpengaruh oleh budaya barat yang justru dapat menyebabkan krisis identitas terhadap generasi muda bangsa ini. Walaupun hal tersebut dikatakan sebagai pengekangan kebebasan, namun perlu dilakukan karena jangan sampai kebebasan yang sebebas-bebasnya dan justru menjadi kebablasan. Seluruh penggunaan teknologi dan informasi harus digunakan secara bijak, sehingga benteng perilaku bangsa ini akan terjaga. Selain itu juga upaya sosialisasi untuk mencitai kebudayaan sendiri oleh pemerintah dan masyarakat jangan sampai tersendat-sendat, tapi justru harus terus-menerus dilakukan, untuk memupuk rasa cinta tanah air bangsa ini.
Sebagai generasi muda, hendaknya kita mempunyai keberanian dan kemauan untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara demi kemajuan bangsa dan negara. Para generasi muda hendaknya dapat membentengi diri dari pengaruh “westernisasi” yang sebagian besar ternyata berdampak buruk pada generasi muda. Pepatah yang menyebutkan “apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu tuai” harus  menjadi pedoman para generasi muda, bahwa setiap pengabdian diri kita untuk bangsa dan negara pasti akan mendapatkan timbal-baliknya. Bangsa dan negeri ini selalu menantikan pemimpin-pemimpin masa depan yang sekaliber Soekarno-Hatta atau bahkan melebihinya yang dapat membawa bangsa dan negara ini maju dan sejahtera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar